Rindu yang menggantung
September 10, 2020Aku menulis lagi hari ini,
Aku sudah lama sekali tidak memikirkanmu sibuk mencari sebuah harapan baru yang layaknya bisa benar benar jadi tempatku bertumpu.
Dan kamu tau, aku menemukan nya. Dia memberiku sesuatu yang belum pernah kamu berikan. Perhatian, kelembutan dan juga waktu. Hal yang sangat aku inginkan ketika bersamamu, kamu tau saat itu aku tersenyum, aku tertawa, wajahku berseri, bahkan orang orang di sekitarku menyebut aku bahagia tidak seperti biasanya.
Aku tersenyum menanggapi itu semua, mungkin benar mereka melihat kebahagiaan yang aku rasakan.
Awalnya memang seperti itu hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan pada akhirnya aku merasakan sesuatu, mungkin di sebut rasa bosan. Entahlah, aku tidak mengerti.
Rasa di dadaku memang tak bisa ku artikan penuh.
Sekarang chatnya jarang ku balas, telponnya tak pernah ku angkat, aku tak punya selera menghubunginya. Dulu waktu di awal perkenalan aku dan dia, aku berharap dia bisa menghapus rasa ku yang bertingkat padamu, menghapus memori kita yang memenuhi ruang di otakku, membersihkan tentang kamu di kehidupanku. Menyapu tangisku yang kadang menetes karenamu. Aku sering mengirimkan chat untuknya, dan dia membalas apa yang aku inginkan, membalasnya dengan segala perhatian. Sayangnya tuhan mungkin belum memberiku izin membuka pintu yang lain lagi. Aku bahagia memang tapi bahagianya tak sebahagia ketika bersamamu, ada suatu kehampaan yang membuatku amat bimbang, aku memutuskan untuk mengabaikan nya. Aku takut ia berharap banyak padaku yang bahkan tak punya rasa apa apa kecuali padamu.
Salah kah aku? Mungkin saja salah , salah mengartikan hati, salah menebak teka teki hidup, salah mengerti akan keadaan dan maksud tuhan.
Sekarang, aku malah banyak pertanyaan. Kenapa rasaku padamu tak bisa di gantikan olehnya? Sekarang aku takut, Takut untuk apa? Aku sudah melewati banyak sekali rasa padamu, bahagia yang teramat dan sedih yang teramat juga. Layaknya bisa di artikan bahwa kecewa ku bisa di gantikan oleh orang yang lebih layak. Entahlah.
Aku hanya bisa melewati nya dengan sabar terus berjalan berharap luka yang kau torehkan bisa aku sembuhkan dan berharap tak ada lagi luka lain lagi yang mengisinya.
0 comments